I
am a fucking teacher. And being a teacher tidak hanya duduk di kelas sambil
mebacakan buku pada anak-anak yang sebagian besar ingin meracuni gurunya karena
sudah tidak sabar ingin keluar kelas untuk bermain. Yups, the irony, being a
teacher juga berarti kau bertanggung jawab atas masa depan anak-anak yang tadi
ingin membunuhmu. Memulai sesuatu dengan keluh kesah mungkin bukan cara terbaik
untuk menarik pembaca, jadi kalau mau pergi, please, this is your time karena
ini akan semakin menarik, kidding hhhhh, you are going to be bored out of your
mind until you want to kill the author, apa yang kau harapkan dari penulis yang
juga seorang guru. okay, let’s start before you really take a knife.
Seperti
yang kalian bisa tebak, saya seorang guru bahasa inggris di sekolah terpencil,
tepatnya di salah satu kabupaten di Sulawesi selatan. Lahir di tahun 1996. Seorang
guru millennial yang mendapatkan pendidikan dari baby boomer, dan harus
mendidik anak-anak dari generasi Z, if you don’t know Genarasi Z, google it. So
seperti yang kalian lihat kami guru-guru dengan tantangan yang sangat sangat
besar, kami di haruskan memahami ketiga generasi untuk dapat melanjutkan
pekerjaan. Guru millennial di hadapkan pada teman kerja akan generasi baby
boomer yang menganggap “anak-anak jaman sekarang” adalah anak yang tidak tau
sopan santun, selfish, tidak bisa diam dan hanya bermain HP sepanjang hari
which is true as fuck, tapi itu tidak berarti semua yang di lakukan anak-anak
generasi z tersebut tidak bermamfaat. Mereka bermain HP karena memang itulah
hiburan yang 10x kali lebih baik di bandingkan duduk diam di kelas mendengarkan
kisah hidup dari guru mereka, entah mengapa guru-guru baby boomer really loves
telling their life stories, saya saja masih ingat kisah guru-guruku dikampus
dulu, dan aku sudah jadi guru for god shake,, I
wonder how many times I have heard them then.
Okay, stop. 3 generasi bukanlah sesuatu yang
akan di bahas disini, but at leats kalian sudah lihat bagaimana pendidikan di
Indonesia sekarang, inilah pendidikan yang ada di Indonesia, dimana guru dan
murid memiliki perbedaan genarasi yang juga membuat mereka memiliki perbedaan
perfective dalam kehidupan, apa yang di anggap guru baby boomer terbaik adalah
hal yang murid anggap sangat tidak relevan untuk generasi mereka. Kalian masih
belum mengerti? Here is the example;
Kartika lahir dari seorang ibu rumah tangga
biasa dengan ayah seorang PNS pada tahun 1978, yups baby boomer. Selama
hidupnya dia di ajarkan oleh ayahnya kalau dia rajin belajar dan masuk
Universitas maka hidupnya akan terjamin, minimal tidak kekurangan. Dan itu yang
kartika lakukan, di belajar dengan giat di sekolah, mendapat rengking satu di
kelas mulai dari SD sampai SMP, sampai di terimah di sebuah universitas ternama
di kotanya, lulus dengan predikat terbaik, long story short dia akhirnya
menjadi seorang dosen di universitas tempatnya dulu belajar, bertemu sang suami
di tempat kerja yang juga seorang dosen. Mereka memiliki seorang anak yang
lahir di tahun 90’an aka generasi millennial. Karena kartika merasa hidupnya
berhasil berkat cara ayahnya mendidiknya dia pun mendidik anaknya dengan cara
yang sama, dia menyisipkan setiap pesan kalau kau tidak belajar maka kau tidak
akan berhasil, kamu harus memiliki pendidikan yang tinggi untuk dapat berhasil
di dunia. Inilah yang di ketahui kartika selama hidupnya, maka inilah yang di
turunkan kartika pada anaknya yang dia inginkan lebih berhasil dari dirinya,
apa yang tidak di ketahui oleh kartika adalah dunia yang dahulu dia tahu
berbeda dengan dunia yang sekarang anaknya jalani. Dunia yang anaknya jalani
adalah dunia dimana ia bisa melihat dunia dengan satu tombol klik, suatu hari
Rio, anak dari kartika berpura sakit Karena tidak mau kesekolah dan lebih
memilih tinggal di rumah bermain dengan Hpnya, kartika yang mengetahui hal ini
sangat marah, dia bertanya pada anaknya mengapa dia tidak mau kesekolah. Kira –
kira begini percakapannya,
Kartika : Rio, kenapa tidak kesekolah nak
Rio : Emang orang kenapa sih
harus sekolah?
Kartika : maksud kamu apa? Yaa orang sekolah
supaya dapat kerja
Rio : Kerja buat apa coba?
Kartika : kamu kerja biar dapat uang rio,
buat makan, supaya kaya
Rio : Ma, liat deh, orang-orang
kaya di dunia g harus sekolah kok, liat Micheal Jakson, Beyonce, Pemilik MC
Donals dll, mereka semua punya banyak uang, bahkan lebih dari mama tapi mereka
g perluh hapal-hapal teori grafitasi ( sambil menunjukkan video youtube tentang
7 orang sukses dunia)
Kartika : …
Rio terlihat
seperti anak yang sangat kurang ajar kan, I know, tapi coba kalian baca
kembali, perhatikan dia juga tidak salah, dia bahkan memberikan fakta yang
solid (video youtube hhhh), inilah yang membuat sang ibu yang lahir di jaman
baby boomer tidak bisa berkata-kata, fakta bahwa apa yang di sampaikan rio itu
benar. Orang yang tadi di sebutkan rio adalah contoh orang-orang yang kartika
inginkan Rio menjadi ketika sudah dewasa, sukses, terkenal dan kaya. Tapi
seperti yang Rio sebutkan, MJ tidak menyanyikan teory grafitasi di panggung,
dan MC Donald hanya perlu menggoreng ayam for god shake.
Okay, aku tidak menyarankan untuk anak-anak
agar tinggal di rumah sambil nonton video di youtube di banding ke sekolah, NO,
it’s just show that setiap orang tua harusnya bisa melihat dari sudut
pandangnya anaknya, bukannya memaksakan cara belajar yang sudah basi pada
anak-anak di jaman modern. Cerita di atas menunjukkan kartika sebagai system
pendidikan di Indonesia sedangkan Rio sebagai murid-murid di Indonesia, bedanya
Rio dapat mengutarakan pendapatnya di depan kartika dan di dengarkan, sedangkan
murid-murid kita di Indonesia tetap di paksa belajar dengan cara lama tanpa di
dengarkan sudut pandangnya oleh system pendidikan.
Buku ini saya
anggap sebagai murid yang ingin di dengarkan persfectivenya oleh pemerintah,
oleh guru, oleh orang tua yang tetap memaksakan cara mereka kepada anak-anak
yang tidak berdaya ( OMG, guee jadi lebayy ). Dengan buku ini setidaknya semua
pihak dapat melihat ke dalam persfective yang berbeda-beda, dengan mengetahui
dari berbagai sisi, setidaknya kita semua tidak lagi berfikir bahwa “anak-anak
jaman sekarang memang malas” melainkan berfikir tentang bagaimana cara
mengajarkan anak-anak agar dapat menjadi penerus bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar