Selasa, 05 November 2019

Sistem Pendidikan Sudah Basi


           
I am a fucking teacher. And being a teacher tidak hanya duduk di kelas sambil mebacakan buku pada anak-anak yang sebagian besar ingin meracuni gurunya karena sudah tidak sabar ingin keluar kelas untuk bermain. Yups, the irony, being a teacher juga berarti kau bertanggung jawab atas masa depan anak-anak yang tadi ingin membunuhmu. Memulai sesuatu dengan keluh kesah mungkin bukan cara terbaik untuk menarik pembaca, jadi kalau mau pergi, please, this is your time karena ini akan semakin menarik, kidding hhhhh, you are going to be bored out of your mind until you want to kill the author, apa yang kau harapkan dari penulis yang juga seorang guru. okay, let’s start before you really take a knife.
            Seperti yang kalian bisa tebak, saya seorang guru bahasa inggris di sekolah terpencil, tepatnya di salah satu kabupaten di Sulawesi selatan. Lahir di tahun 1996. Seorang guru millennial yang mendapatkan pendidikan dari baby boomer, dan harus mendidik anak-anak dari generasi Z, if you don’t know Genarasi Z, google it. So seperti yang kalian lihat kami guru-guru dengan tantangan yang sangat sangat besar, kami di haruskan memahami ketiga generasi untuk dapat melanjutkan pekerjaan. Guru millennial di hadapkan pada teman kerja akan generasi baby boomer yang menganggap “anak-anak jaman sekarang” adalah anak yang tidak tau sopan santun, selfish, tidak bisa diam dan hanya bermain HP sepanjang hari which is true as fuck, tapi itu tidak berarti semua yang di lakukan anak-anak generasi z tersebut tidak bermamfaat. Mereka bermain HP karena memang itulah hiburan yang 10x kali lebih baik di bandingkan duduk diam di kelas mendengarkan kisah hidup dari guru mereka, entah mengapa guru-guru baby boomer really loves telling their life stories, saya saja masih ingat kisah guru-guruku dikampus dulu, dan aku sudah jadi guru for god shake,, I wonder how many times I have heard them then.
Okay, stop. 3 generasi bukanlah sesuatu yang akan di bahas disini, but at leats kalian sudah lihat bagaimana pendidikan di Indonesia sekarang, inilah pendidikan yang ada di Indonesia, dimana guru dan murid memiliki perbedaan genarasi yang juga membuat mereka memiliki perbedaan perfective dalam kehidupan, apa yang di anggap guru baby boomer terbaik adalah hal yang murid anggap sangat tidak relevan untuk generasi mereka. Kalian masih belum mengerti? Here is the example;
Kartika lahir dari seorang ibu rumah tangga biasa dengan ayah seorang PNS pada tahun 1978, yups baby boomer. Selama hidupnya dia di ajarkan oleh ayahnya kalau dia rajin belajar dan masuk Universitas maka hidupnya akan terjamin, minimal tidak kekurangan. Dan itu yang kartika lakukan, di belajar dengan giat di sekolah, mendapat rengking satu di kelas mulai dari SD sampai SMP, sampai di terimah di sebuah universitas ternama di kotanya, lulus dengan predikat terbaik, long story short dia akhirnya menjadi seorang dosen di universitas tempatnya dulu belajar, bertemu sang suami di tempat kerja yang juga seorang dosen. Mereka memiliki seorang anak yang lahir di tahun 90’an aka generasi millennial. Karena kartika merasa hidupnya berhasil berkat cara ayahnya mendidiknya dia pun mendidik anaknya dengan cara yang sama, dia menyisipkan setiap pesan kalau kau tidak belajar maka kau tidak akan berhasil, kamu harus memiliki pendidikan yang tinggi untuk dapat berhasil di dunia. Inilah yang di ketahui kartika selama hidupnya, maka inilah yang di turunkan kartika pada anaknya yang dia inginkan lebih berhasil dari dirinya, apa yang tidak di ketahui oleh kartika adalah dunia yang dahulu dia tahu berbeda dengan dunia yang sekarang anaknya jalani. Dunia yang anaknya jalani adalah dunia dimana ia bisa melihat dunia dengan satu tombol klik, suatu hari Rio, anak dari kartika berpura sakit Karena tidak mau kesekolah dan lebih memilih tinggal di rumah bermain dengan Hpnya, kartika yang mengetahui hal ini sangat marah, dia bertanya pada anaknya mengapa dia tidak mau kesekolah. Kira – kira begini percakapannya,
Kartika            : Rio, kenapa tidak kesekolah nak
Rio                  : Emang orang kenapa sih harus sekolah?
Kartika            : maksud kamu apa? Yaa orang sekolah supaya dapat kerja
Rio                  : Kerja buat apa coba?
Kartika            : kamu kerja biar dapat uang rio, buat makan, supaya kaya
Rio                  : Ma, liat deh, orang-orang kaya di dunia g harus sekolah kok, liat Micheal Jakson, Beyonce, Pemilik MC Donals dll, mereka semua punya banyak uang, bahkan lebih dari mama tapi mereka g perluh hapal-hapal teori grafitasi ( sambil menunjukkan video youtube tentang 7 orang sukses dunia)
Kartika            : …
Rio terlihat seperti anak yang sangat kurang ajar kan, I know, tapi coba kalian baca kembali, perhatikan dia juga tidak salah, dia bahkan memberikan fakta yang solid (video youtube hhhh), inilah yang membuat sang ibu yang lahir di jaman baby boomer tidak bisa berkata-kata, fakta bahwa apa yang di sampaikan rio itu benar. Orang yang tadi di sebutkan rio adalah contoh orang-orang yang kartika inginkan Rio menjadi ketika sudah dewasa, sukses, terkenal dan kaya. Tapi seperti yang Rio sebutkan, MJ tidak menyanyikan teory grafitasi di panggung, dan MC Donald hanya perlu menggoreng ayam for god shake.
 Okay, aku tidak menyarankan untuk anak-anak agar tinggal di rumah sambil nonton video di youtube di banding ke sekolah, NO, it’s just show that setiap orang tua harusnya bisa melihat dari sudut pandangnya anaknya, bukannya memaksakan cara belajar yang sudah basi pada anak-anak di jaman modern. Cerita di atas menunjukkan kartika sebagai system pendidikan di Indonesia sedangkan Rio sebagai murid-murid di Indonesia, bedanya Rio dapat mengutarakan pendapatnya di depan kartika dan di dengarkan, sedangkan murid-murid kita di Indonesia tetap di paksa belajar dengan cara lama tanpa di dengarkan sudut pandangnya oleh system pendidikan.
Buku ini saya anggap sebagai murid yang ingin di dengarkan persfectivenya oleh pemerintah, oleh guru, oleh orang tua yang tetap memaksakan cara mereka kepada anak-anak yang tidak berdaya ( OMG, guee jadi lebayy ). Dengan buku ini setidaknya semua pihak dapat melihat ke dalam persfective yang berbeda-beda, dengan mengetahui dari berbagai sisi, setidaknya kita semua tidak lagi berfikir bahwa “anak-anak jaman sekarang memang malas” melainkan berfikir tentang bagaimana cara mengajarkan anak-anak agar dapat menjadi penerus bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar